Pages

Selasa, Maret 31, 2009

Mengapa penyu perlu diselamatkan?


Penyu yang sudah hidup di bumi sejak jauh sebelum Homo sapiens alias manusia ada, diperkirakan akan punah dalam waktu 10 tahun bila tidak dilindungi. (Penyu diperkirakan sudah berevolusi dan hidup di bumi sejak 150 juta tahun yang lalu, malah nenek moyangnya sudah ada dari 210 juta tahun yang lalu – jadi sempat hidup berbarengan dengan sepupunya, yaitu dinosaurus. Homo sapiens alias manusia baru ada sekitar 150000 tahun yang lalu, walaupun nenek moyangnya, genus Homo yang tertua yaitu Homo habilis, sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu, tapi itupun masih jauh lebih muda dibanding penyu.)

Setelah berjuta-juta tahun hidup tenang di bumi penyu jadi terancam punah setelah manusia berevolusi, memiliki kecerdasan dan akhirnya berkuasa sebagai ujung teratas rantai makanan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah suka menyantap penyu sejak dahulu sepanjang sejarahnya, maka bagi penyu, jenis binatang yang sukses mengarungi bumi selama jutaan tahun, agen pemusnahnya memang manusia. Yang menyebabkan jumlah mereka menyusut banyak selain karena menjadi santapan manusia dan diburu untuk kulitnya atau dicuri telur-telurnya, adalah karena aktivitas manusia banyak mengganggu kehidupan mereka. Penyu betina haus pergi ke darat untuk bertelur dan membutuhkan tempat di pasir untuk memendam telur-telurnya. Dengan makin banyaknya kegiatan manusia di sepanjang pantai, daerah yang bisa mereka pakai untuk bertelur jadi sangat banyak berkurang.

Dan menyedihkan juga bila diingat bahwa di banyak tempat setelah si induk pergi para pencuri datang menggali telur-telur penyu untuk dijual. Lebih menyedihkan lagi di banyak tempat kegiatan pengambilan telur penyu memang dilegalkan. Sebuah artikel Kompas di tahun 2000 (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/17/iptek/adu19.htm) menunjukkan kegiatan pengambilan telur penyu yang memang dijadikan sumber resmi pendapatan daerah di Derawan. Mereka menyatakan bahwa 10% dari telur-telur yang diambil dibiarkan menetas untuk menjaga kelangsungan hidup penyu. Padahal banyak penelitian menyebutkan bahwa hanya 10% dari tukik yang menetas akan mencapai usia reproduksi. Bila pengambilan telur oleh manusia ikut dihitung, maka dari usaha keras para induk penyu untuk bertelur, hanya akan ada 1% yang nantinya kembali untuk bertelur di pantai ini! Tidak heran kalau mereka hampir punah!

Pada tanggal 26 Desember 2004 di aceh, merupakan musibah besar yang mengakibatkan Satwa langka seperti penyu sisik dan penyu hijau banyak yang tersapu gelombang tsunami ke darat dan tak bisa melaut lagi. Akibatnya banyak satwa itu yang ditemukan mati,” ujar Drh. Luki Kusuma Wardhani, Koordinator Tim ProFauna untuk Aceh kepada SH di Jakarta, akhir pekan lalu. Padahal penyu hijau dan penyu sisik merupakan dua satwa langka kebanggaan Aceh yang populasinya sudah sangat berkurang.

Hanya dengan mengganti kail yang digunakan oleh para nelayan tradisional, ribuan penyu di bagian Timur Lautan Teduh bisa diselamatkan. Ini adalah gagasan dana alam sedunia WWF sejak 2003 di Ecuador yang kemudian diterapkan di seluruh Amerika Latin.
Kelestarian penyu laut terancam karena habitatnya kian rentan dan kegiatan nelayan. Ini terjadi saat penyu mendatangi pancingan yang dipasang nelayan untuk mengail ikan. Kalau tersangkut kail penyu biasanya akan mati.

Menurut para ahli, siklus hidup penyu laut terdiri dari beberapa tahap dan berlangsung di tempat-tempat yang berbeda. Satwa ini suka berpindah-pidah. Itulah pentingnya berbagai negara bekerjasama melestarikan habitat penyu laut.

Menguntungkan

Program ini dimulai pada 2003 di Ecuador dan saat ini 9 negara ikut dalam program tersebut. "Berkat sejumlah pengamat, bisa kami sampaikan bahwa jumlah penyu yang tersangkut pada kail turun 90%", jelas Elies Arps Kepala WNF.
Kail dengan bentuk huruf C mengurangi jumlah penyu yang tidak sengaja tertangkap. Rodolfo Salazar dari Camara Nacional de la Industria Palanguera (Institut Nasional Untuk Perlindungan Nelayan Tradisional) di Costa Rica juga sangat puas.
Dengan mengganti kail bentuk huruf J dengan kail berbentuk huruf C kita akan bisa melakukan 2 hal. Bila penyu tetap tersangkut juga maka lebih mudah melepaskannya" jelas Salazar.
Selain itu masih ada keuntungan lain. "Ikan dorado yang kami tangkap, tertangkap hidup, dan itu lebih lezat. Dengan kail berbentuk huruf J, 40% dari ikan hasil tangkapannya mati. Ikan itu kurang segar, jadi harganya pun lebih murah"."

Antusias

WWF mendukung gagasan-gagasan baru. Sampi saat ini sudah ribuan lokakarya diselenggarakan di berbagai tempat.
Gilpert Apier dari Costa Rica bekerja sebagai pengamat. Ia menyatakan program ini memberikan pengalaman bagus. "Begitu saya di laut saya langsung menjalin hubungan baik dengan para nelayan. Saya terangkan apa maksud kedatangan saya. Saya jelaskan penyu laut harus diselamatkan..!!".