Pages

Kamis, Januari 20, 2011




PEMBANGUNAN PARIWISATA BAHARI UJOENG KEUDIDI

Pembangunan pariwisata bahari pada hakikatnya adalah upaya mengembangkan dan memanfaatkan objek serta daya tarik wisata bahari di kawasan pesisir dan lautan Indonesia, berupa kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias. Beberapa jenis kegiatan wisata bahari pada saat ini sudah dikembangkan oleh pemerintah dan swasta, diantaranya wisata alam, pemancingan, berenang, selancar, berlayar, rekreasi pantai dan wisata pesiar.

Sumberdaya hayati pesisir dan lautan Indonesia seperti populasi ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis, terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove dan berbagai bentang alam pesisir atau coastal landscape yang unik lainnya membentuk suatu pemandangan alamiah yang begitu menakjubkan. Kondisi tersebut menjadi daya tarik sangat besar bagi wisatawan sehingga pantas bila dijadikan sebagai objek wisata bahari.

Objek wisata bahari lainnya yang berpotensi besar adalah wilayah pantai. Pada umumnya, Indonesia memiliki kondisi pantai yang indah dan alami. Di antaranya adalah pantai ujoeng keudidi yang terletak di wilayah Kabupaten Aceh Besar yang merupakan salah satu dari kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam. Wilayah pantainya menawarkan jasa dalam bentuk panorama pantai yang indah.

Ujoeng Keudidi yang terletak di Kecamatan Lhong Desa Seungko Mulat dengan jumlah penduduk sebesar 292 jiwa, merupakan salah satu bagian dari berbagai tempat yang berpotensial untuk dapat dijadikan objek wisata guna meningkatkan kegiatan ekonomi. Sebagaimana kita ketahui bersama pariwisata merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat terkait dengan ekonomi global, dan apabila dikembangkan dengan baik akan sangat membantu kehidupan ekonomi suatu negara /daerah.

Wilayah pantai Ujoeng Keudidi menawarkan jasa dalam bentuk panorama pantai yang indah, tempat pemandian yang bersih dan juga tempat untuk melakukan kegiatan lainnya terutama wisata penyelaman, alam, pemancingan dan rekreasi pantai serta pesisir. Perairan Ujoeng Keudidi adalah salah satu dari beberapa perairan terbaik untuk diving site, bahkan juga dapat diakui sebagai salah satu tempat yang sangat menarik yang memiliki kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias.

Untuk mewujudkan hal tersebut terdapat dua faktor penting dalam strategi pembangunan kegiatan pariwisata. Pertama, faktor internal berupa strategi terukur manajemen daya tarik objek wisata, yang terkait mulai dari aspek teknis, strategi jasa pelayanan sampai kepada strategi penawaran. Kedua, faktor eksternal berupa dukungan perangkat kebijakan dari pemerintah serta penciptaan iklim keamanan yang kondusif bagi kegiatan pariwisata di Aceh.

Selanjutnya, dalam membenahi strategi pengembangan pariwisata bahari, maka secara teknis ada sejumlah upaya yang harus dilakukan. Pertama, pengembangan sarana dan prasarana wisata bahari. Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pengembangan wisata bahari secara terpadu. Ketiga, penyediaan sistem informasi pariwisata dan program promosi yang tepat.

Di lain pihak, ada faktor-faktor nonteknis yang berasal dari unsur kebijakan pemerintah namun turut mempengaruhi daya tarik kegiatan wisata yang juga perlu dibenahi.

Ada pula pemikiran tentang menetapkan pelabuhan sebagai ”pintu masuk” wisata dan mengembangkannya sesuai standar internasional. Juga upaya menciptakan suasana aman dan nyaman sebagai iklim yang kondusif demi berlangsungnya kegiatan pariwisata. Semoga tulisan ini dapat dijadikan paradigma baru pembangunan dunia kepariwisataan Nanggroe Aceh Darussalam yang berbasis pada industri pariwisata dan ekonomi kerakyatan.

Oleh : Mahfud. SE

Selasa, Maret 31, 2009

Mengapa penyu perlu diselamatkan?


Penyu yang sudah hidup di bumi sejak jauh sebelum Homo sapiens alias manusia ada, diperkirakan akan punah dalam waktu 10 tahun bila tidak dilindungi. (Penyu diperkirakan sudah berevolusi dan hidup di bumi sejak 150 juta tahun yang lalu, malah nenek moyangnya sudah ada dari 210 juta tahun yang lalu – jadi sempat hidup berbarengan dengan sepupunya, yaitu dinosaurus. Homo sapiens alias manusia baru ada sekitar 150000 tahun yang lalu, walaupun nenek moyangnya, genus Homo yang tertua yaitu Homo habilis, sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu, tapi itupun masih jauh lebih muda dibanding penyu.)

Setelah berjuta-juta tahun hidup tenang di bumi penyu jadi terancam punah setelah manusia berevolusi, memiliki kecerdasan dan akhirnya berkuasa sebagai ujung teratas rantai makanan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah suka menyantap penyu sejak dahulu sepanjang sejarahnya, maka bagi penyu, jenis binatang yang sukses mengarungi bumi selama jutaan tahun, agen pemusnahnya memang manusia. Yang menyebabkan jumlah mereka menyusut banyak selain karena menjadi santapan manusia dan diburu untuk kulitnya atau dicuri telur-telurnya, adalah karena aktivitas manusia banyak mengganggu kehidupan mereka. Penyu betina haus pergi ke darat untuk bertelur dan membutuhkan tempat di pasir untuk memendam telur-telurnya. Dengan makin banyaknya kegiatan manusia di sepanjang pantai, daerah yang bisa mereka pakai untuk bertelur jadi sangat banyak berkurang.

Dan menyedihkan juga bila diingat bahwa di banyak tempat setelah si induk pergi para pencuri datang menggali telur-telur penyu untuk dijual. Lebih menyedihkan lagi di banyak tempat kegiatan pengambilan telur penyu memang dilegalkan. Sebuah artikel Kompas di tahun 2000 (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/17/iptek/adu19.htm) menunjukkan kegiatan pengambilan telur penyu yang memang dijadikan sumber resmi pendapatan daerah di Derawan. Mereka menyatakan bahwa 10% dari telur-telur yang diambil dibiarkan menetas untuk menjaga kelangsungan hidup penyu. Padahal banyak penelitian menyebutkan bahwa hanya 10% dari tukik yang menetas akan mencapai usia reproduksi. Bila pengambilan telur oleh manusia ikut dihitung, maka dari usaha keras para induk penyu untuk bertelur, hanya akan ada 1% yang nantinya kembali untuk bertelur di pantai ini! Tidak heran kalau mereka hampir punah!

Pada tanggal 26 Desember 2004 di aceh, merupakan musibah besar yang mengakibatkan Satwa langka seperti penyu sisik dan penyu hijau banyak yang tersapu gelombang tsunami ke darat dan tak bisa melaut lagi. Akibatnya banyak satwa itu yang ditemukan mati,” ujar Drh. Luki Kusuma Wardhani, Koordinator Tim ProFauna untuk Aceh kepada SH di Jakarta, akhir pekan lalu. Padahal penyu hijau dan penyu sisik merupakan dua satwa langka kebanggaan Aceh yang populasinya sudah sangat berkurang.

Hanya dengan mengganti kail yang digunakan oleh para nelayan tradisional, ribuan penyu di bagian Timur Lautan Teduh bisa diselamatkan. Ini adalah gagasan dana alam sedunia WWF sejak 2003 di Ecuador yang kemudian diterapkan di seluruh Amerika Latin.
Kelestarian penyu laut terancam karena habitatnya kian rentan dan kegiatan nelayan. Ini terjadi saat penyu mendatangi pancingan yang dipasang nelayan untuk mengail ikan. Kalau tersangkut kail penyu biasanya akan mati.

Menurut para ahli, siklus hidup penyu laut terdiri dari beberapa tahap dan berlangsung di tempat-tempat yang berbeda. Satwa ini suka berpindah-pidah. Itulah pentingnya berbagai negara bekerjasama melestarikan habitat penyu laut.

Menguntungkan

Program ini dimulai pada 2003 di Ecuador dan saat ini 9 negara ikut dalam program tersebut. "Berkat sejumlah pengamat, bisa kami sampaikan bahwa jumlah penyu yang tersangkut pada kail turun 90%", jelas Elies Arps Kepala WNF.
Kail dengan bentuk huruf C mengurangi jumlah penyu yang tidak sengaja tertangkap. Rodolfo Salazar dari Camara Nacional de la Industria Palanguera (Institut Nasional Untuk Perlindungan Nelayan Tradisional) di Costa Rica juga sangat puas.
Dengan mengganti kail bentuk huruf J dengan kail berbentuk huruf C kita akan bisa melakukan 2 hal. Bila penyu tetap tersangkut juga maka lebih mudah melepaskannya" jelas Salazar.
Selain itu masih ada keuntungan lain. "Ikan dorado yang kami tangkap, tertangkap hidup, dan itu lebih lezat. Dengan kail berbentuk huruf J, 40% dari ikan hasil tangkapannya mati. Ikan itu kurang segar, jadi harganya pun lebih murah"."

Antusias

WWF mendukung gagasan-gagasan baru. Sampi saat ini sudah ribuan lokakarya diselenggarakan di berbagai tempat.
Gilpert Apier dari Costa Rica bekerja sebagai pengamat. Ia menyatakan program ini memberikan pengalaman bagus. "Begitu saya di laut saya langsung menjalin hubungan baik dengan para nelayan. Saya terangkan apa maksud kedatangan saya. Saya jelaskan penyu laut harus diselamatkan..!!".